
PACITAN — Institut Studi Islam Muhammadiyah (ISIMU) Pacitan bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pacitan menggelar Salat Idul Adha 1447 Hijriah di halaman Masjid Abdurrahman Saleh Al-Tsunayan, Kampus ISIMU Pacitan, Rabu (27/5/2026). Salat Id dimulai pukul 06.40 WIB. dan berlangsung khusyuk dengan diikuti jemaah dari berbagai kalangan.
Sejak pagi, area halaman masjid kampus mulai dipenuhi jemaah. Segenap sivitas akademika ISIMU Pacitan, segenap warga Muhammadiyah, serta masyarakat di lingkungan sekitar kampus tampak berdatangan untuk menunaikan salat Id bersama. Sebagian hadir bersama keluarga, sementara lainnya datang berkelompok.
Gema takbir yang berkumandang sejak malam hingga pagi menambah suasana syahdu di lingkungan kampus. Saf jemaah tersusun rapi di halaman Masjid Abdurrahman Saleh Al-Tsunayan, menghadirkan nuansa kebersamaan yang menyatukan sivitas kampus dengan masyarakat sekitar.
Bertugas sebagai imam dalam pelaksanaan Salat Idul Adha tersebut yakni Ustadz Sugiyarto, M.Pd., sedangkan khutbah Idul Adha disampaikan oleh Barlianta Dwi Muhamad, S.Pd.
Dalam khutbahnya, Barlianta mengajak jemaah untuk mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim AS, khususnya tentang pentingnya kehadiran sosok ayah dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter anak di tengah dinamika kehidupan saat ini.
“Dari kisah Nabi Ibrahim, kita belajar bahwa seorang anak membutuhkan sosok ayah yang hadir, membimbing, dan mendampingi. Hari ini banyak anak kehilangan figur ayah, bukan karena tidak ada, tetapi karena kesibukan, pekerjaan, atau berbagai keadaan yang membuat kedekatan itu semakin jauh,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim menunjukkan peran ayah tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, melainkan juga menghadirkan perhatian dan pendampingan dalam tumbuh kembang anak.
“Nabi Ibrahim memberikan teladan bahwa pendidikan dimulai dari keteladanan, komunikasi, dan kedekatan. Anak tidak hanya membutuhkan nafkah, tetapi juga membutuhkan kehadiran, perhatian, dan bimbingan dari seorang ayah,” imbuhnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting di momentum Idul Adha, bahwa pengorbanan tidak selalu dimaknai dalam bentuk materi, tetapi juga melalui kesediaan meluangkan waktu, perhatian, dan peran nyata dalam membangun keluarga yang harmonis.
Pelaksanaan Salat Idul Adha berlangsung dengan tertib dan penuh kekhidmatan. Momentum tersebut tidak hanya menjadi ruang pelaksanaan ibadah tahunan, tetapi juga mempererat ukhuwah di tengah keluarga besar Muhammadiyah dan masyarakat sekitar Kampus ISIMU Pacitan.
Di tengah gema takbir dan lantunan doa, halaman kampus yang biasanya dipenuhi aktivitas akademik pagi itu berubah menjadi ruang perjumpaan, tempat nilai pengorbanan, keikhlasan, dan persaudaraan kembali diteguhkan bersama.(*)
*) Penulis: Winarno
Editor: Tim Kreatif PMB